MENEBAR KEBAIKAN DARI PULAU BORNEO HINGGA PULAU ANDALAS

...
Dibagikan oleh Admin pada 18 September 2017

Namanya pendek, Subur, begitu tertera di ijazahnya, begitu pula sehari-hari dipanggil oleh kawan dan siapa saja yang mengenalnya. Sangat murah senyum dan mudah untuk bergaul dengan siapapun. Kawan-kawan seangkatannya pun mengakui kelihaiannya dalam berkomunikasi.

Bergabung di STAI Luqman al Hakim Surabaya sejak tahun 1998. Dan menyelesaikan pendidikan tingginya pada tahun 2001. Mendapatkan tugas pengabdian di kota Bontang Provinsi Kalimantan Timur. Di Pulau Borneo ini, sejak pertama kali menginjakkan kakinya, telah tercium aroma yang sangat menantang,

“ketika saya pertama kali datang, kondisi pendidikannya sangat memperihatinkan. Jumlah total siswa Madrasah Ibitidaiyahnya saja hanya 50 orang. Alhamdulillah dalam kurun 5 hingga 10 tahun kami berdakwah di sini, MI yang saya tangani menjadi Sekolah percontohan se Kota Bontang dan telah mempunyai siswa sekitar 600 orang” cerita Ust. Subur dengan bersemangat.

Keberhasilan membangun lembaga pendidikan di kota Bontang ini, mencuri perhatian penguruh wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur untuk memberikannya amanah yang lebih tinggi, yaitu Kepala Departemen Pendidikan Hidayatullah Kaltim dan berpindah tugas ke Ibu Kota Provinsi, Samarinda.

“Alhamdulillah selama berada di departemen pendidikan banyak  sekolah yang kita dirikan dan kita kembangkan” tambah ustadz murah senyum ini.

Berhasil di tingkat wilayah, membuat pengurus pusat Hidayatullah tertarik untuk memberikannya amanah yang lebih menantang. Pada tahun 2015 setelah Musyawarah Nasional Hidayatullah di Balikpapan, Ustadz Subur diberikan amanah sebagai Ketua Pengurus Wilayah Provinsi Bengkulu. Akhirnya dengan semangat penuh, berpindah dari Pulau Borneo menuju Pulau Andalas, Sumatera.

“semua yang saya lakukan ini adalah berkat bimbingan dari STAIL, yang pola pendidikannya tidak mengandalkan pendidikan di kelas, namun juga di lapangan. Dan inilah yang menjadikan saya mempunyai kemampuan khusus dan mempunyai daya tahan yang membedakan dengan sarjana lain.” Tambah ustadz bersuku jawa ini.

Pola pendidikan yang mengharuskan teori yang didapatkan di kelas oleh mahasiswa untuk dilatih di lapangan nyata memang menjadi ciri khas STAI Luqman al Hakim Surabaya. Mahasiswa telah dibiasakan untuk mengelola Masjid, TPQ, aktivis anak jalanan dan panti asuhan.

“Saya berharap, pola pendidikan seperti ini tetap dipertahankan dan dikembangkan oleh STAIL. Karena dengan pola seperti ini, alumni tidak hanya bekerja, namun mampu menciptakan lapangan kerja” Pungkas dan pesan ustadz yang jarang berkopiah ini.