MENGGAPAI CINTA ALLAH (seri-1)

...
Dibagikan oleh Admin pada 26 October 2017

Nur Huda

 

Semua orang ingin dekat dengan penguasa. Dengan dekat dengan penguasa, ia akan mendapat banyak kemudahan. Seseorang akan bangga dianggap sebagai “orang dalam” nya penguasa. Bahkan, banyak yang mengaku-aku sebagai orang dekat hanya karena pernah satu forum atau bertemu secara tidak sengaja. Namun sayang, kebanyakan manusia hanya puas menjadi orang dekatnya para penguasa bumi. Bagi orang beriman, cita-cita hidupnya adalah menjadi orang dekatnya Allah SWT. Penguasa alam semesta. Untuk menjadi kekasihnya Allah, Ahmad Farid menerangkan pada kita beberapa hal yang harus kita lakukan.

Pertama, bacalah al-Qur’an dengan mentadabburi dan memahami maknanya. Sahabat Usman ra mengatakan, seandainya hati kita bersih, kita tidak akan bosan membaca al Qur’an. Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang berisi kisah-kisah, perintah, larangan dan sifat-sifat Allah. Saat engkau membaca Al-qur’an, anggaplah seolah – olah Allah sedang berbicara dengan kita. Ibnu Mas’ud mengatakan, jika Allah sudah memanggil kita dengan “ Wahai orang-orang yang beriman......” maka ketahuilah, saat itu Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama Allah memberikan kabar gembira kepada kita dengan perintah- perintah-Nya, yang dengan melaksanakannya, Allah akan semakin sayang pada kita. Atau kedua, Allah mengabarkan larangan agar kita menjauhinya, karena Allah tidak ingin kita celaka.

Kedua, mendekat kepada Allah dengan amal-amal sunnah setelah amal yang fardhu. Seorang pegawai yang hanya masuk tepat waktu dan pulang tepat waktu serta mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan tepat waktu, itu adalah biasa. Tidak ada yang istimewa. Akan istimewa jika ia datang lebih awal dan pulang lebih akhir, dan ia mampu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari target. Itu bukti bahwa ia menyenangi pekerjaannya dan ingin ‘berbuat lebih’ dari sekedar gugur kewajiban. Seorang hamba menjadi istimewa di hadapan Allah jika ia berlari mendekat kepada Allah dengan amalan sunnah setelah amalan wajib. Itu artinya ingin berdekatan, ia tidak mau berjauhan dengan Allah. Ia menikmati suasana itu. Kata Allah dalam hadits qudsi, bahwa kalau seorang hamba telah mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah setelah wajib, niscaya Allah akan mencintainya. Jika Allah teah cinta padanya maka apapun yang diminta pasti akan diberi. Jika ia minta pertolongan akan ditolong oleh Allah. Luar biasa bukan ? Jika seseorang seseorang beramal karena dorongan cinta, maka semakin banyak pengorbanannya, akan semakin bangga dan ingin berkorban lebih lagi.

Nasehat Ahmad Farid yang ketiga adalah melazimkan hati dan lisan kita selalu zikir (ingat) kepada Allah. Zikir adalah seperti air dan pupuk yang menyuburkan pohon cinta. Daun dan ranting akan layu bahkan mati jika terlambat dalam pemberian air dan pupuknya. Rasululah pernah bersabda, perumpamaan orang yang ingat pada Allah dan yang tidak ingat pada Allah seperti orang hidup dan orang mati. Bayangkan ! betapa jauhnya perbedaan orang hidup yang orang mati ! Apa yang bisa kita dapatkan dari orang mati ? Dan apa yang bisa kita lakukan terhadap orang mati ? Kata Allah: ingatlah Aku, niscaya Aku akan ingat kamu. Betapa senang jika Allah ingat pada kita terutama saat kita menghadapi kesulitan-kesulitan di hari qiyamat.

Keempat, menjadikan cinta pada Allah mengalahkan cinta pada diri sendiri saat dikuasai hawa nafsu. Ini membutuhkan latihan yang tidak ringan. Saat rasa kantuk menguasai, namun Allah sudah memanggil kita untuk sholat di masjid. Apa keputusan kita? Saat kita ingin beli perabot rumah, namun ada saudara yang butuh bantuan materi. Saat peluang berbuat maksiyat terbuka, namun malu juga kalau melakukannya. Saat kita mulai “menikmati” pujian – pujian manusia, padahal itu semua karunia-Nya. Saat harga diri direndahkan orang lain, namun Allah menyuruh kita untuk sabar. Setiap hari kita diberikan pilihan oleh Allah. Pilih mana ? Aku –kata Allah- atau hawa nafsumu?

Berita Terkait