Antara Takjil dan Takdir: Apa yang Sebenarnya Kita Cari di Ramadhan?

02 Maret 2026 Berita & Kegiatan
Oleh : Muh. Syahri Sauma, M.Kom.I* Setiap sore di bulan Ramadhan, jalanan berubah wajah. Tenda-tenda kecil berdiri di pinggir jalan. Penjual kolak, es buah, gorengan, kurma, hingga minuman kekinian berjejer rapi. Orang-orang melambatkan kendaraan, menepi, memilih, menawar, lalu tersenyum membawa kantong plastik berisi takjil. Ramadhan terasa hidup. Ada aroma manis, ada hiruk pikuk, ada kebersamaan. Tetapi di tengah keramaian itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri: sebenarnya, apa yang kita cari di Ramadhan? Takjil atau takdir? Takjil adalah simbol yang sederhana. Ia tentang berbuka, tentang mengakhiri lapar setelah seharian menahan diri. Ia tentang kenikmatan yang ditunggu. Tidak ada yang salah dengan itu. Islam pun mengajarkan untuk menyegerakan berbuka. Tetapi ketika perhatian kita lebih banyak tertuju pada apa yang masuk ke mulut dibanding apa yang masuk ke hati, mungkin ada sesuatu yang perlu direnungkan. Ramadhan perlahan berubah menjadi musim konsumsi. Iklan makanan meningkat, belanja bertambah, meja berbuka semakin mewah. Kita bisa menghabiskan waktu lama memilih menu berbuka, tetapi hanya beberapa menit membaca Al-Qur’an. Kita sibuk mencari takjil terbaik, tetapi lupa mencari makna terbaik dari puasa itu sendiri. Padahal puasa bukan sekadar menunda makan dan minum. Ia adalah latihan menunda keinginan. Ia adalah cara Allah mengajari kita bahwa hidup bukan tentang memenuhi semua hasrat secepat mungkin. Di saat perut kosong, kita seharusnya lebih peka pada mereka yang setiap hari merasakan kekosongan itu tanpa pilihan. Di saat haus, kita diingatkan bahwa banyak orang hidup dalam kekurangan yang jauh lebih berat. Fenomena sederhana lainnya adalah “berbuka bersama”. Grup keluarga, teman sekolah, rekan kerja, semua berlomba mengatur jadwal. Ramadhan menjadi bulan reuni. Itu indah. Tetapi kadang kita terlalu sibuk mengabadikan momen di kamera, sampai lupa mengabadikan momen itu di hati. Kita mengunggah foto meja penuh makanan, tetapi tidak pernah mengunggah doa yang sungguh-sungguh. Ramadhan juga sering menjadi bulan target instan. Awal bulan penuh resolusi. Ingin khatam berkali-kali, ingin shalat malam setiap hari, ingin sedekah lebih banyak. Namun pertengahan bulan, semangat mulai menurun. Di sinilah pertanyaan tentang takdir menjadi relevan. Ramadhan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang siapa kita ingin menjadi setelahnya. Takdir dan Takjil Takdir bukan sesuatu yang sepenuhnya kita pilih, tetapi arah hidup sering kali ditentukan oleh pilihan kecil yang kita ulang setiap hari. Ramadhan memberi kita ruang untuk memperbaiki arah itu. Ia adalah jeda dari rutinitas yang sering membutakan kita. Ia adalah kesempatan untuk bertanya ulang: apakah hidup ini hanya tentang kenyang dan nyaman, atau tentang makna dan tujuan? Di banyak masjid, kita melihat pemandangan yang mengharukan. Ada orang tua yang tetap datang meski langkahnya pelan. Ada anak kecil yang belajar berdiri di samping ayahnya dalam shalat tarawih. Ada seseorang yang diam-diam menangis di sudut saf. Ramadhan menghadirkan kesederhanaan yang jujur. Tidak ada gelar, tidak ada jabatan. Yang ada hanya hamba dan Tuhannya. Mungkin di situlah jawabannya. Ramadhan bukan sekadar tentang takjil yang manis di lidah, tetapi tentang takdir yang manis di akhir perjalanan hidup. Ia bukan tentang seberapa banyak menu yang kita siapkan, tetapi seberapa banyak hati yang kita lembutkan. Ia bukan tentang ramai di luar, tetapi tentang sunyi di dalam. Takjil akan habis dalam hitungan menit. Takdir dibentuk dalam hitungan keputusan. Setiap sore kita memang menunggu adzan maghrib. Tetapi yang lebih penting adalah: apakah kita juga menunggu perubahan dalam diri? Apakah kita benar-benar ingin keluar dari Ramadhan sebagai pribadi yang berbeda, atau hanya ingin keluar sebagai orang yang kenyang? Takdir dan Takjil Ramadhan datang setiap tahun, tetapi kesempatan memperbaiki arah hidup belum tentu datang berulang kali. Di antara kolak dan kurma, di antara tenda takjil dan meja berbuka, ada ruang sunyi yang menunggu kita isi dengan doa yang jujur. Maka di bulan ini, mungkin kita tetap boleh mencari takjil. Tetapi jangan lupa mencari takdir. Karena yang membuat Ramadhan berarti bukan apa yang kita makan saat berbuka, melainkan siapa kita setelahnya. *Dosen STAI Luqman al Hakim, Komunikolog