
Terhitung sejak bulan Maret, 2020 silam, Ustadz Ahmad Fatoni, dosen Prodi Ekonomi Syariah (Eksya), nampak lebih sibuk memperhatikan Hand Phone-nya.
Banyak pesan yang masuk. Dari mahasiswa. Mereka menanyakan tentang mata kuliah, yang kurang difahami, ketika mengikuti proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) Online.
"Jadi, KBM Online ini membuat saya lebih sibuk mengurusi HP. Kadang-kadang, capek juga jari mengetik penjelasan yang akan disampaikan kepada mahasiswa," jelas Fatoni.
Meskipun demikian, dosen lulusan UINSA Jurusan Ekonomi Syariah ini, mengaku senang. Itu membuktikan kalau mahasiswa serius mengikuti perkuliahan, meskipun via Online.
Pengalaman berbeda disampaikan oleh ust. Muh Idris, Kaprodi MPI (Manajemen Pendidikan Islam).
Ia mengaku beberapa kali mendapat laporan dari mahasiswa, tentang susahnya sinyal di daerahnya, karena berada di pedalaman.
"Di antara mereka harus pergi ke kota dulu untuk mencari sinyal. Jarak tempuhnya bahkan sampai 30-45 menitan dari tempat tinggal mereka."
"Yang mereka (mahasiswa) persoalkan," terang dosen Model Strategi Pembelajaran ini, "terkadang dosen secara mendadak menunda perkuliahannya. Padahal di sisi lain, mereka sudah kadung pergi ke kota," terang Idris.
Selain KBM, STAIL juga mengadakan UAS (Ujian Akhir Semester) untuk semester genap secara Online.
Setali tiga uang dengan KBM. UAS pun mengalami beberapa potongan cerita unik, karena beberapa mahasiswa tinggal di pelosok, yang minim akan sinyal.
"Ada mahasiswa ketika ujian pergi ke kebun sawit. Karena di rumahnya tidak ada signal. Ketika baterai habis, ia izin pamit undur diri duluan," kisah Abu Anis, dosen Bahasa Inggris. (Robinsah)