
Kesukaran mahasiswa dalam menguasai baca kitab, menjadi renungan ustadz Damanhuri. Ia yang didaulat sebagai pengampu mata kuliah bahasa al-Qur'an itu, terus berpikir untuk menemukan problematika sekaligus solusi yang ditawarkan.
"Setelah sekian lama mengajar, saya temukan, bahwa permasalahannya itu berada proses pendekatan yang digunakan," ungkap ustadz Damanhuri.
Para mahasiswa dalam belajar, sambung lulusan master Bahasa Arab UIN Malang ini, lebih mengedepankan pendekatan struktural. Jabatan dari satu kata. Buahnya, para pelajar kesulitan dalam menganalisa.
Dari hasil temuannya itulah kemudian, ustadz asal Madura ini, terus mengkaji pola belajar yang lebih meringankan dan memudahkan dalam penguasaan baca kitab.
"Alhamdulillah, akhirnya saya temukan sebuah sistem belajar, yang kemudian saya beri nama; Baca Kitab Teknik Bernafas," terang ustadz Damanhuri.
Proses pembelajaran dengan penemuannya ini, mengedepankan pendekatan sistem. Hal ini dipandang lebih mudah, karena sejatinya dalam bahasa Arab kata itu hanya terbagi menjadi tiga; Fi'il (kata kerja), isim (kata benda), dan huruf.
"Sistem ketiga bentuk kata itulah yang kudu dikuasai. Jadi simpel yang akan diingat oleh para peserta didik," jelas ustadz Damanhuri.
Selain dengan menitik beratkan pada praktik dalam proses pembelaharan, metode ini juga, kata ustadz Damanhuri, jauh dari kesan monoton, karena pendekatan yang digunakan itu dengan lagu-lagu nashid sehingga teori-teori mudah dihafalkan dan diingat.

Adapun diksi 'Nafas,' dalam penemuannya ini, itu terletak pada pola praktik baca kitabnya. Dihantarkan peserta didik untuk membaca dan menterjemah kitab, sesuai dengan sistem susunan tiga kata tersebut di atas tadi (fi'il, isim, huruf).
"Jadi berirama bacaan. Pendek-pendek. Nafas tidak tersengal-sengal. Akan berhenti secara tepat, sesuai dengan susunan kata yang didapati pada teks," paparnya.
Sampai saat ini, aku ustadz Damanhuri, selain di ruang kelas (on line), sudah beberapa peserta yang mengikuti pelatihannya. Di antara mereka ada yang berlatar pendidikan umum. Tidak punya besik bahasa Arab.
"Alhamdulillah, mereka mengatakan mudah. Dan secara ideal, pelatihan bahasa Arab ini diselenggarakan secara tatap muka langsung. Karena akan mempermudah dalam mengamati perkembangan para peserta," pungkasnya. (Robinsah)