Sukses Belajar Kitab Kuning, Ini Rahasia Badri, Alumnus STAIL 2021

23 September 2021 Berita & Kegiatan
Suara pembawa acara wisuda dan penugasan kader dai dengan jelas memanggil namanya. Namun sosok yang dipanggil, Badri, masih belum percaya, dinobatkan sebagai wisudawan juara satu baca kitab. “Sampai sekarang sebenarnya masih belum percaya. Karena sejatinya banyak juga teman-teman yang mahir baca kitab,” terangnya ketika berbincang beberapa waktu lalu. Pemuda asal Kutai Barat, Kalimantan Timur, lalu mengisahkan, bahwa kemampuannya membaca kitab, tidak lepas dari sistem yang berlaku di STAI Luqman al-Hakim, Surabaya, serta kesabaran ustadz pembimbing dalam mengarahkannya. Sebelumnya, ia mengaku sama sekali tidak faham bahasa Arab. Apalagi tekhnik membaca kitab. Maklum, katanya, semasa sekolah menengah pertah dan menengak akhir, ia tak pernah menjumpai ‘menu’ pelajaran itu. “Baru ketika masuk STAIL, saya mendapat pelajaran,” ungkap kelahiran tahun 1996 silam ini. Pada awalnya, Badri mengaku cukup sulit menangkap ulasan para ustadz. Sering ia mengerjakan tugas dengan hasil yang jauh dari kata memuaskan. Itu wajar, karena jawaban yang diberikan asal-asalan. “Bahkan pernah dua semester saya diremidi pada mata kuliah yang sama. Nilai akhir mentok dapat C,” kisah putra pasangan bapak Kamarudin (alm) dan ibu Miyah ini. Barulah ketika ia telah duduk di semester lima, tekatnya untuk ‘menaklukkan’ bahasa Arab, khususnya baca kita, membumbung tinggi. Maka muailah ia pasang ‘kuda-kuda’ guda serius belajar. Setiap kali ada mata pelajaran bahasa Arab, ia terus berusaha aktif. Tidak hanya di kelas, di waktu luang, ia beranikan diri untuk mendatangi rumah ustadz yang mengampu pelajarann tersebut, kemudian belajar secara privat. “al-Hamdulillah, sedikit demi sedikit mulai mengerti. Faham tentang kedudukan satu kata dalam sebuah kalimat,” paparnya. Tidak hanya mengandal belajar bersama dengan si ustadz pengampu bahasa Arab, kata anak ke enam dari tujuh bersaudara ini, di asrama ia juga acap mengulang-ulang dan menganalisa kitab-kitab seorang diri. “Saya rasakan, justru proses belajar mandiri itu lah yang paling banyak mempengaruhi kemampuan baca kitab saya. Kalau tidak bisa, ya nanti didiskusikan dengan ustadz. Poinnya melatih belajar mandiri,” ulas penghobi baca ini. Buah manis dari usaha yang telah dikeluarkan pun diperoleh, ketika ujian baca kitab, Badri tidak hanya dinatakan lulus, tapi juga mendapat predikat juara satu. (Robinsah)