stail.ac.id - Tidak seperti biasanya yang diselenggarakan secara Daring (Dalam Jaringan), Forum KIPAS (Kajian Islam dan Peradaban STAI Luqman Al Hakim Surabaya), edisi 3, dilaksanakan secara
off line, bertempat di gedung utama kampus satu STAIL, lantai dua (14/06/23).
Hadir sebagai pemateri, Ustadz Drs. H. Miftahudin, M.Si, dosen senior Prodi KPI STAIL, yang mengupas materi bertema; Pendidikan Islam dan Konstruksi Peradaban.
Dalam menguraikan pembahasannya, ustadz Miftah, begitu panggilan karab beliau, melandasi materi yang disampaikan dengan menyitir surat al-Baqarah, ayat 151, yang isi pokoknya mengupas tentang tugas utama rasulullah SAW.
Merujuk pada ayat tersebut, ulas ustadz Miftah, dalam upaya membangun peradaban Islam, maka ilmu harus menjadi energi penggeraknya.
“Ayat pertama yang turun,
iqro (perintah membaca) menjadi awal mula terbangunnya peraban Islam. Sebab fase sebelum itu disebut zaman
jahiliyah (kebodohan),” jelas beliau.

Membangun budaya literasi menjadi tuntutan guna menyongsong tegaknya peradaban Islam. Dalam konteks kampus, dosen haruslah menjadi pionir terbentuknya budaya literasi ini. Maka sangat disayangkan, ujar sosok asal Gresik ini, bilamana ada dosen kurang meng-
up grade diri dalam bidang keilmuan, wawasan dan pengalaman.
“Para Rasul yang diutus Allah adalah orang-orang cerdas dan berilmu luas. Tidak ada mereka yang bodoh. Maka, para dosen, yang menjadi penyambung risalah para rasul dalam memberi pencerahan, haruslah menapaki jalan mereka. Aktif dalam menambah keilmuan,” papar beliau.
Dengan terbangunnya nuansa literasi pada lingkungan dosen, diharapkan mampu memberi warna para mahasiswa yang memang saat ini tengah lemah dalam bidang ini, karena dimanja oleh tekhnologi dan informasi yang berkembang begitu pesat.
Meski demikian, wanti ustadz Miftah, penting bagi setiap
stakeholder yang ada, memastikan bahwa aktivitas literasi yang terbangun berbuah pada adab. Ilmu yang dikaji harus melahirkan adab. Bukan semata wawasan.
“Untuk menghasilkan konsep ilmu yang demikian, tauhid haruslah menjadi falsafah yang mendasari setiap disiplin ilmu yang dipelajari,” ungkap ustadz yang juga mengemban amanah ketua Ristek Dikti Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah ini.
.